Langsung ke konten utama

Mengusung Pancasila Kembali Menjalin Ikatan Simpul Persatuan

Membincang negara adalah membincang persoalan yang sangat kompleks dan rumit. Sulur-sulur pengurai untuk memahaminya diperlupakan ilmu pengetahuan yang mendalam. Sejarah atau histori suatu bangsa setidaknya telah di fahami sebagai entitas yang tidak tunggal. Melainkan ia (bangsa) berdiri dan bergerak melaju hingga keadaannya kini melainkan ikatan entitas-entitas beragam yang menjalinnya. Semua menyimpul merekatkan seperti anyaman pada sulur-sulur benang saling bertautan tanpa merasa terbebani. Dan orang menggunakan nya sebagai kain bukan lagi sepintalan benang satu warna. Kain yang yang menjadi entitas bangsa, terjalin, terajut dan kelak bangsa itu dikenal dengan keragaman warnanya.

Apa yang mampu mengikat keragaman itu tetap dan bertahan kokoh menjadi bangsa? Para pendiri bangsa ini menuliskan cita-citanya sejak Republik Indonesia meyatakan kemerdekaan nya pada 17 Agustus 1945. Ya dengan cita-cita, di dunia ini hanya terdapat 3 negara yang lahir dari cita-cita pertama Amerika Serikat, kedua Uni Soviet dan ketiga Indonesia, ujar Zulkifli Hasan Ketua MPR –RI 2017 saat temu Netizen Senin, 6 juni 2017 lalu. Bagi Indonesia keberlangsungan negara tercatat telah menempuh perjalanan 72 tahun kemerdekaannya. Dan ini bukan waktu yang singkat. Waktu yang panjang setelah generasi proklamir yang masih hidup mungkin hanya terbilang hitungan jari. Namun sumber-sumber pengetahuan paling mendasar dari apa yang disebut sebagai  Indonesia sudah tercatatkan dalam perpustakaan bangsa. Seperti  Dasar-dasar negara sebagai pilarnya yang kita kenal dengan 4Pilar bangsa : Pancasila,  UUD45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.


Pertemuan netizen yang terdiri dari Blogger, influencer, dan pengguna sosmed, dengan MPR-RI telah beberapa kali di adakan,senin lalu ini bertepatan dengan pekan Pancasila yang di selenggarakan oleh Pemerintah. Maka MPR selaku mandataris UUD45 juga berpartisipasi dalam kesatuan yang sama dikarenakan bagian dari 4pilar kebangsaan tersebut. Terbukanya komunikasi dialektik semenjak Reformasi memungkinkan setiap unsur negara menyuarakan pandangan yang berbeda dikarenakan sudut pandang lain yang di akui sebagai bagian pandangan yang saling menguatkan baik terminologi maupun substansi bagi kemajuan berbangsa dan bernegara Republik ini. Ini kiranya pandangan yang dapat saya simpulkan dari penyampaian Ma’ruf Cahyono  Sekjen MPR-RI 2017.

Saya sesungguhnya orang yang sangat tendensius dengan retorika, begitupun kehadiran saya di acara temu netizen ini. Kehadiran dalam suatu forum yang berkenaan dengan kegiatan lembaga negara biasanya berjalan penuh dengan retorika panggung yang “sedikit menyebalkan” hmmm maaf. Namun kali ini suasana berbeda dengan gaya retorika berbeda di tampilkan oleh petinggi-petinggi negara terutama dua orang pimpinan Ketua dan Sekjen MPR-RI ini. Meski keduanya hadir namun yang berbincang dengan kami “kaum netizen” cukup lama hanya Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono. Namun setidaknya tidak kalah senadanya dengan sambutan singkat Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Selayaknya pergantian kepemimpinan yang melahirkan program dan penerapan kebijakan yang berbeda merupakan hal yang pasti terjadi dan menjadikan Bangsa ini terus hadir dan berdiri selama 72 tahun. Dan perseteruan perbedaan dari partai penguasa dan oposisi menjadi dialektik yang paling pasti sebagai resiko dari sistem pergantian kepemimpinan yang sudah di tetapkan oleh UUD 45. Konsensi negara telah di tetapkan oleh kehadiran partai-partai yang dianggap mewakili wakil-wakil perbedaan yang ada. Namun di tengah perjalanan 72 tahun kemerdekaan saat ini pencanangan pekan Pancasila oleh pemerintah sebagai azas utama yang dianggap sebagai kunci bagi persatuan  dan Kesatuan Bangsa dalam keadaan berkebangsaan dan bernegara era saat ini.

Meski pun melahirkan pertentangan perbedaan pandangan dan kritik. Sesungguhnya sebelum lahirnya Indonesia perbedaan dan pergulatan pandangan akan hal ini pun sudah terjadi. Namun pertanyaanya, akankah sama semangat dan jiwanya dalam perseteruan perbedaan tersebut dengan semangat dan jiwa para pendahulu negeri ini seperti masa-masa proklamasi dahulu?

Nah mungkin inilah secuil catatannya saya dalam kehadiran jiwa dan raga saya di ruang Delegasi Nusantara IV gedung MPR-RI. Sebagai Blogger di era millenial dan menyuarakan sepenggal pertannyaan untuk kita renungkan bersama sebagai anak bangsa. Tentunya kita jawab saja dalam jiwa terdalam kita. Apakah saya masih berPancasila? Masih ber Indonesia? Sebab saya yakin seyakin yakinnya jiwa-jiwa yang tulus mencintai Bangsa dan Negaranya akan menjawabnya dengan perilaku dan sikap sebagai negarawan dan Pahlawan.

Demikian.

Salam   

Komentar

  1. Pancasilabahkan jadi perboncangan hangat di vatikan, karena di dalamnya dianggap sesuai dengan agama apapun . Pancasila dianggap sebagai alat pemersatu kebhinekaan dan indonesia menjadi kiblatnya.
    Bravo Indonesia

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan berbagi...
Bergembira selalu !!

Postingan populer dari blog ini

Chrisye Dalam Film Layar Lebar

Rabu, 21 September 2016 lalu sebuah press conference awal sebuah film yang segera produksi berjudul Chrisye diselenggarakan. Saya mengikuti kegiatan tersebut setelah sebelumnya mendaftar melalui komunitas Blogger Reporter ID (BRID). Ini merupakan pengalaman yang menarik bagi saya untuk mengikutinya. Sebab produksi film ternyata tak hanya melalui berbagai proses yang sangat panjang namun juga memerlukan keseiringan dengan promosinya. Treatment sebuah produksi film setahu saya memang memerlukan waktu yang tidak pendek. Dan seiring berjalan produksi treatment promosi juga dilakukan, ini mungkin juga merupakan salah satu strategi bagi production house untuk setidaknya mampu menggandeng sponsor untuk produksi film mereka.
Film Chrisye yang akan mulai produksi pada awal tahun 2017 digarap bersama MNC picture dan Vito Global Visi. Dan akan disutradarai oleh Rizal Mantovani seorang sutradara Film Layar lebar dan juga memiliki kedekatan personal dengan sosok Chrisye. Kisah seorang sosok Chrisy…

Pahlawan Masa Kini

Apa yang dimaksud dengan Pahlawan ? dan bagaimana kaitannya dengan waktu masa kini? Dua pertanyaan ini muncul ketika saya berulang membaca kalimat Pahlawan masa kini. Dan kemudian saya renungi dengan seksama kalimat itu. Apa sesungguhnya arti pahlawan bagi sebagian orang pada masa kini. Tidak ada salahnya merenungi sebuah kalimat untuk memahami lebih jauh apa makna yang terkandung didalamnya. Namun kemudian muncul pertanyaan untuk apa berupaya keras memahami maknanya dan hal ini pun menjadi deretan pertanyaan selanjutnya menggenangi rasa ingin tahu saya lebih jauh.
Pahlawan dalam pengertian yang lacur di pahami sebagian orang jika dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan RI adalah orang yang sedang berperang mengangkat senjata. Yaitu orang-orang yang hidup pada masa perang yang berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah. Dan selalu identik dengan orang yang membawa senjata berperang di medan tempur untuk menjadi pahlawan. Padahal jika kita mau menelisik kearah sudut pandang lain bahwa …

Potong Rambut di Kaizen

Sebelum mudik seperti biasa saya rapih-rapihin rambut, soalnya mau ketemu dan sungkeman dengan mertua. Kalau nggak rapi gimana gitu..udah setahun nggak ketemu. Tempat potong rambut langganan di Bonang di komplek tempat tinggal kebetulan lagi tutup, untungnya saya punya tempat potong rambut favorit di mall. Sambil nemanin istri belanja sekalian deh melipir ke KAIZEN buat potong rambut. Soal harga memang beda jauh sih dengan tempat potong rambut di komplek saya, tapi hasil potongnya sama-sama memuaskan.


Awalnya paling nggak suka potong rambut di mall. Sewaktu jalan ke mall bareng istri KAIZEN di mall Sumarecon Serpong baru saja buka. Dan pas banget rambut lagi gondrong, jadi lah istri maksain potong rambut di KAIZEN. Waktu baru buka harganya masih promo kalau nggak salah sekitar 25ribu. Setiap potong rambut selalu ditanyain mau model rambut kayak apa, kalau saya sih selalu bilang 1 senti, si mbaknya udah paham. Soalnya dari awal buka sudah beberapa kali potong rambut di KAIZEN Sumare…