Langsung ke konten utama

Review Film Bulan Terbelah Di Langit Amerika

Film seperti karya seni yang lain pada akhir cerita membutuhkan pesan yang ingin disampaikan. Setelah menyaksikan Film Bulan Terbelah di Langit Amerika pada tanggal 15 Desember kemarin di Epicentrum XXI Kuningan saya cukup menikmati film ini dari awal hingga akhir hingga saya ingin menuliskan beberapa hal tentunya dengan parameter saya sebagai penikmat film.

Apakah fim selalu membutuhkan dramaturgi ? Sebuah film jika tanpa drama tentu tidak akan menghasilkan suatu fim yang membawa bobot emosional penonton yang terhubung ke dalam cerita film. Sebesar apa dramaturgi itu? Tentu porsi penonton akan membutuhkan ukuran yang berbeda-beda. Jika ditanyakan ke saya seberapa besar porsinya tentu film ini memberikan porsi yang sangat besar bagi dramaturgi yang dibangun dalam cerita film ini. Nampak sekali dalam alur cerita konflik dibangun seperti secara kebetulan bahwa seluruh peran saling berhubungan satu dengan yang lain meskipun diametral. 

Seorang apresiator memiliki luasan perspektifnya masing-masing terhadap cerita film. Sekian ratus atau sekian ribu penonton yang menyaksikan film tentunya akan membawa perspektif yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Bagi saya banyak hal yang menarik yang saya ambil dari film ini. Suspensi yang muncul dalam benak dan isi kepala saya terletak pada sebuah pertanyaan "Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam" dan serentetan pertanyaan-pertanyaan lain "apakah islam itu teroris?", "mengapa manusia mudah terpecah belah oleh propaganda?",  "why bad news is good news?". Terlepas (mungkin) saya terlalu larut dalam menikmati film ini.

Mungkin saya bukan penikmat (apresiator) film yang baik, namun beberapa tulisan review tentang film ini menyatakan bahwa film ini cukup layak untuk ditonton saya juga merasa demikian sungguh memang layak film ini untuk ditonton. Mengenai hal-hal yang sifatnya pemilihan aktor,aktris,setting tempat dan hal lain dalam pembuatan sebuah film tentunya tim produksi sudah memberikan yang terbaik bagi proses pembuatan karya film ini. Jika fim ini harus di eksplore lagi lebih bagus mengenai efek gambar dan dibuat agak bertele-tele sedikit agar tidak hanya menguras airmata saja tapi masuk kedalam cerita yang logic dan kuat suspensi nya.

Salam Film Indonesia...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chrisye Dalam Film Layar Lebar

Rabu, 21 September 2016 lalu sebuah press conference awal sebuah film yang segera produksi berjudul Chrisye diselenggarakan. Saya mengikuti kegiatan tersebut setelah sebelumnya mendaftar melalui komunitas Blogger Reporter ID (BRID). Ini merupakan pengalaman yang menarik bagi saya untuk mengikutinya. Sebab produksi film ternyata tak hanya melalui berbagai proses yang sangat panjang namun juga memerlukan keseiringan dengan promosinya. Treatment sebuah produksi film setahu saya memang memerlukan waktu yang tidak pendek. Dan seiring berjalan produksi treatment promosi juga dilakukan, ini mungkin juga merupakan salah satu strategi bagi production house untuk setidaknya mampu menggandeng sponsor untuk produksi film mereka.
Film Chrisye yang akan mulai produksi pada awal tahun 2017 digarap bersama MNC picture dan Vito Global Visi. Dan akan disutradarai oleh Rizal Mantovani seorang sutradara Film Layar lebar dan juga memiliki kedekatan personal dengan sosok Chrisye. Kisah seorang sosok Chrisy…

Pahlawan Masa Kini

Apa yang dimaksud dengan Pahlawan ? dan bagaimana kaitannya dengan waktu masa kini? Dua pertanyaan ini muncul ketika saya berulang membaca kalimat Pahlawan masa kini. Dan kemudian saya renungi dengan seksama kalimat itu. Apa sesungguhnya arti pahlawan bagi sebagian orang pada masa kini. Tidak ada salahnya merenungi sebuah kalimat untuk memahami lebih jauh apa makna yang terkandung didalamnya. Namun kemudian muncul pertanyaan untuk apa berupaya keras memahami maknanya dan hal ini pun menjadi deretan pertanyaan selanjutnya menggenangi rasa ingin tahu saya lebih jauh.
Pahlawan dalam pengertian yang lacur di pahami sebagian orang jika dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan RI adalah orang yang sedang berperang mengangkat senjata. Yaitu orang-orang yang hidup pada masa perang yang berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah. Dan selalu identik dengan orang yang membawa senjata berperang di medan tempur untuk menjadi pahlawan. Padahal jika kita mau menelisik kearah sudut pandang lain bahwa …

Potong Rambut di Kaizen

Sebelum mudik seperti biasa saya rapih-rapihin rambut, soalnya mau ketemu dan sungkeman dengan mertua. Kalau nggak rapi gimana gitu..udah setahun nggak ketemu. Tempat potong rambut langganan di Bonang di komplek tempat tinggal kebetulan lagi tutup, untungnya saya punya tempat potong rambut favorit di mall. Sambil nemanin istri belanja sekalian deh melipir ke KAIZEN buat potong rambut. Soal harga memang beda jauh sih dengan tempat potong rambut di komplek saya, tapi hasil potongnya sama-sama memuaskan.


Awalnya paling nggak suka potong rambut di mall. Sewaktu jalan ke mall bareng istri KAIZEN di mall Sumarecon Serpong baru saja buka. Dan pas banget rambut lagi gondrong, jadi lah istri maksain potong rambut di KAIZEN. Waktu baru buka harganya masih promo kalau nggak salah sekitar 25ribu. Setiap potong rambut selalu ditanyain mau model rambut kayak apa, kalau saya sih selalu bilang 1 senti, si mbaknya udah paham. Soalnya dari awal buka sudah beberapa kali potong rambut di KAIZEN Sumare…